Rencana pemerintah pusat menaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
semakin menuai kontra dari berbagai pihak khususnya dari pihak akadamik yang
notabenenya adalah kaum pejuang intelektual yaitu maha siswa. Beberapa hari terakhir
mahasiswa yang berlatar belakang Universitas Islam di Sulawesi gencar melakukan
aksi demo walaupun sampai harus bentrok dengan aparat keamanan bahkan sampai
bentrok dengan warga setempat.
Selain itu berbagai lembaga maupun organisasi masyarakat (ormas)
seperti Hizbur Tahrir Islam di bandung sudah melancarkan aksi demo di berbagai
daerah di Bandung Jawa Barat. Aksi demo ini diprediksi semakin panas sampai DPR
RI menandatangani surat keputusan presiden terkait dengan keanikan BBM.
Kenaikan BBM nampaknya bukan hanya dikhawatirkan oleh para maha
siswa namun tidak terkecuali oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya
masayarakat Bangka yang persentase penduduknya adalah didominiasi oleh para
pelaut. Bangka sebagai daerah yang dikelilingi oleh laut memiliki potensi suber
daya ikan yang sangat tinggi sehingga kebanyakan masayarakat perprofesi sebagai
pelaut.
Dengan naiknya BBM maka diprediksi para pelaut akan kesulitan untuk
membeli BBM untuk kebutuhan kapal-kapal mereka karena kebanyak dari mereka
hanyalah nelayan kecil yang berpenghasilah rendah dan hanya cukup untuk
kebutuhan sehari-hari saja sehingga mereka tidak akan mampu membeli BBM sebagai
unsur utama aktivitas melaut mereka.
Dengan naiknya BBM berarti nelayan akan menaikan harga ikan yang
merupakan lauk pavorif masyarakat Bangka sehingga bakyak masyarakat miskin di
Bangka tidak mampu mem beli ikan karena linjakan harga yang drastis. Padahal
ikan lauk yang sangat digemari oleh masayarakat Bangka dari semua kalangan dan
ikan merupakan sumber protein tinggi sehingga jika masayarakat tidak lagi
mengkonsumsi ikan maka akan beresiko pada terhalangnya pertumbuhan gizi
masayarakat sehingga kesejahteraan pangan masayaraakat Bangka akan menurun.